Di proyek galian dan pemindahan material, banyak orang fokus ke “excavator-nya besar” atau “dump truck-nya banyak”. Padahal, salah satu penentu paling cepat untuk melihat apakah target harian masuk akal adalah cycle time. Dengan menghitung cycle time excavator Caterpillar (Cat), kamu bisa memperkirakan produksi per jam, menentukan kebutuhan jumlah dump truck, dan mengecek apakah bottleneck ada di operator, jarak swing, atau antrian hauling.

Artikel ini membahas rumus cycle time excavator secara sederhana, cara mengubahnya jadi target harian, serta tips praktis supaya angka di lapangan mendekati hitungan.

Apa itu cycle time excavator?

Cycle time adalah waktu yang dibutuhkan excavator untuk menyelesaikan satu siklus kerja dari:
menggali (dig) → mengangkat (lift) → swing ke arah dumping/loader → menuang (dump) → swing kembali → posisi siap menggali lagi.

Pada pekerjaan loading ke dump truck, satu cycle biasanya berarti “satu bucket masuk ke bak truk”. Pada pekerjaan rehandling atau stockpile, cycle bisa berarti “satu bucket dipindahkan ke titik buang”.

Cycle time biasanya dihitung dalam detik. Semakin kecil cycle time (tanpa mengorbankan kerapian dan safety), semakin besar output per jam.

Kenapa cycle time penting untuk target harian?

Target harian pada dasarnya adalah:
output per jam × jam kerja efektif.

Kalau cycle time terlalu tinggi karena swing jauh, operator menunggu truk, atau material sulit digali, produksi harian pasti turun—seberapa pun besar kapasitas unit.

Sebaliknya, cycle time yang stabil membuat produksi mudah diprediksi, dan RAB jadi lebih realistis.

Rumus dasar cycle time excavator

Rumus paling sederhana:

Cycle Time (CT) = T_dig + T_swing_loaded + T_dump + T_swing_empty

Keterangan:
T_dig: waktu menggali dan mengisi bucket
T_swing_loaded: waktu swing saat bucket berisi menuju titik dump/ke truk
T_dump: waktu menuang material (termasuk positioning)
T_swing_empty: waktu swing kembali ke area galian dalam kondisi bucket kosong

Cara mengukurnya:
Pakai stopwatch (HP juga bisa), lalu ambil 10–20 siklus, hitung rata-ratanya. Jangan hanya 1–2 siklus karena biasanya bias.

Tips penting: ukur saat kondisi “normal” (truk tersedia, operator sudah stabil, material standar), bukan saat site lagi kacau.

Dari cycle time ke produksi per jam

Setelah dapat CT (detik), ubah ke jumlah cycle per jam:

Cycle per jam = 3600 / CT

Lalu produksi volume (m³/jam):

Produksi (m³/jam) = (3600 / CT) × Bucket Volume (m³) × Fill Factor × Efficiency

Penjelasan faktor:
Bucket Volume: kapasitas bucket (misalnya 1,0 m³ atau 1,2 m³)
Fill Factor: seberapa “penuh” bucket terisi (umumnya 0,7–1,1 tergantung material dan bucket)
Efficiency: faktor efisiensi kerja lapangan (umumnya 0,6–0,85 tergantung kondisi, operator, waiting time, dan manajemen hauling)

Kalau kamu ingin praktis, gunakan pendekatan konservatif:
Fill Factor 0,85–0,95 untuk tanah umum
Efficiency 0,70–0,80 untuk proyek dengan gangguan sedang

Dari produksi per jam ke target harian

Target harian (m³/hari):

Produksi harian = Produksi (m³/jam) × Jam kerja efektif

Jam kerja efektif bukan jam shift di kertas. Misalnya shift 8 jam, biasanya jam efektif bisa turun karena:
toolbox meeting, pemanasan, pindah posisi, antrian truk, hujan, komunikasi, dan jeda kecil lain.

Untuk perhitungan awal, kontraktor sering memakai:
6–7 jam efektif dari shift 8 jam (tergantung site)

Contoh hitung cepat (biar kebayang)

Misalnya:
CT rata-rata = 22 detik
Bucket = 1,0 m³
Fill Factor = 0,9
Efficiency = 0,75
Jam efektif = 7 jam

  1. Cycle/jam = 3600 / 22 = 163,63 cycle/jam

  2. Produksi/jam = 163,63 × 1,0 × 0,9 × 0,75
    = 163,63 × 0,675
    = 110,45 m³/jam (dibulatkan)

  3. Produksi harian = 110,45 × 7
    = 773,15 m³/hari

Angka ini bukan “janji”, tapi baseline untuk menilai target harian masuk akal atau tidak.

Kalau di lapangan ternyata hanya 450 m³/hari, kamu bisa investigasi: CT naik, fill factor turun, atau efficiency jeblok karena menunggu truk.

Cycle time untuk loading dump truck: tambahan rumus ritase

Kalau tujuan kamu bukan m³, tetapi ritase truk, kamu bisa pakai pendekatan:

Bucket per truk = Kapasitas bak truk (m³) / (Bucket Volume × Fill Factor)

Lalu waktu untuk isi satu truk:

Waktu isi truk (detik) = Bucket per truk × CT

Dari sini kamu bisa kira-kira berapa truk yang bisa diisi per jam, dan apakah jumlah dump truck saat ini cukup atau justru kebanyakan.

Faktor lapangan yang paling memengaruhi cycle time

Kalau kamu ingin menurunkan CT, fokus ke faktor yang paling “berdampak besar”:

1) Sudut swing (swing angle)

Semakin jauh sudut swing, semakin lama T_swing_loaded dan T_swing_empty.
Praktik lapangan yang sering dipakai: posisikan dump truck sedekat mungkin dan atur titik dumping agar swing tidak terlalu lebar.

2) Posisi dan antrian dump truck

CT bisa bagus, tapi produksi tetap jeblok kalau excavator menunggu truk. Ini bukan masalah excavator, tetapi masalah sistem hauling.

3) Material dan cara penggalian

Tanah lengket, berbatu, atau timbunan lama sering membuat T_dig naik.
Solusinya bisa berupa: ganti jenis bucket/teeth, ubah teknik penggalian, atau lakukan ripping/loosening dulu.

4) Ukuran bucket dan target finishing

Bucket besar menaikkan volume per cycle, tetapi bisa membuat T_dig naik atau mempersulit kontrol di area sempit.
Jangan hanya mengejar “bucket besar”, karena finishing dan safety bisa terdampak.

5) Skill operator dan konsistensi gerakan

Operator yang halus biasanya punya cycle yang stabil, bukan selalu cepat. Cycle yang stabil lebih mudah dioptimasi dibanding cycle yang “naik turun”.

Cara mengoptimalkan cycle time tanpa bikin kerja jadi berisiko

Ini tips praktis yang sering paling terasa:

Atur posisi truk: hindari truk terlalu jauh dan terlalu tinggi/ rendah terhadap bucket dumping
Minimalkan reposition: buat jalur kerja yang memungkinkan excavator bekerja dalam radius optimal
Pastikan dump truck supply cukup: idealnya excavator tidak menunggu truk terlalu lama
Jaga area kerja bersih: batu besar dan lumpur ekstrem memperlambat T_dig dan travel
Gunakan komunikasi spotter/PIC: mengurangi gerakan koreksi yang membuang waktu
Pantau CT harian: ukur 10 cycle tiap beberapa jam untuk melihat trend

Rumus cycle time excavator Caterpillar sebenarnya sederhana: jumlahkan waktu menggali, swing saat muatan, dumping, lalu swing kembali. Dari CT rata-rata, kamu bisa menghitung cycle per jam, produksi per jam, hingga target harian dengan memasukkan faktor bucket volume, fill factor, efisiensi lapangan, dan jam kerja efektif. Kekuatan metode ini adalah: kamu bisa cepat tahu apakah masalah ada di excavator (cycle time tinggi), di loading (fill factor rendah), atau di sistem hauling (efisiensi turun karena menunggu truk).

 

 

 

 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *